Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

SUMRINGAH

“ Pilih saya niscaya akan jaya negeri ini tak akan ada lagi kemiskinan tak akan ada lagi kerusuhan tak akan ada lagi kelaparan tak akan ada lagi sebuah penyesalan” Berikut hanyalah fiktif belaka dari sebuah karangan kata Kata yang diucap hanya dengan imbalan dukungan semata Semata yang tak mau lihat keadaan semesta Berbibir manis dengan nada yang meronta-ronta ingin diberi tahta Sampai kapan kau berubah wahai pria gagah Gagah dengan dasi kupu – kupu yang melingkar dileher panjangnya Panjang karena melihat hal – hal yang dirasa kurang Kurang dalam artian tidak kebagian tahta Hei pria gagah dengan baju rapi dan tampang Sumringah Yang menjanjikan sebuah janji palsu berlagak sok gagah Kapan kau akan berubah Berubah dalam artian tidak lagi memberi harapan yang Sumringah

JAUH

Berani ku hanya memandangimu dari kejauhan Pandangan itu kabur karena ditutupi oleh dedaunan Sesekali aku mengintip dengan sangat dekat Sambil menyingkarkan dedaunan yang menghalangiku Ku tak berani mendekati dan bercanda gurau dengan mu Bukan karena lemah Tapi karenaku takut Dengan mendekatimu, kau semangkin menjauh

Khayal

Saat itu aku masih kecil Saat dimana akal dan rohani mulai melekat dalam raga Raga yang jauh dari kata ELOK Lalu kau bercerita sembari menyodorkan ku segelas tuak Tuak yang membuatku mabuk setengah melayang Cerita mu menarik jiwa ku untuk bermain dalam khayal mimpi Tapi sayang itu hanya dalam khayal Tak lama aku terbangun Menandakan waktu mencari makan Tetapi semua masih sama ketika aku berkhayalan Di khayalan ku itu seperti KAU Iya KAU yang disebuah maya

Maaf

Kulihat raut wajah itu Ku tahu apa yang kau rasa Hilangku bukan tanpa sebab Proses yang kau lalui pasti sulit Penyebabku pergi bukan karena mu Bukan karena proses ini Penyesalan ku pasti kau rasa MAAF...... Atas sebuah kisah yang ku toreh dulu

Ayah

Kurangkai bayangmu pada saat itu Hingga tak ada lagi buram dalam bayangku Bayang itu seperti mentari yang menyebar Tak bisa ku peluk dan cium Hanya bisa melihat dan merasa Aku tau menjadi sosok mu tak mudah Kau mentari ketika senja sudah hilang Kau rembulan ketika malam mulai terhenti Dan kau sebuah objek nyata dari bayang yang buram

Tinta Merah

Syair selalu berdengung ditelingaku Ketika ku buka pintu tuk memulai sebuah awal Awal untuk memusnahkan masa lalu Masa lalu yang tak berdaya karena masa depan Memang seram ...... Itu berupa proses dari setiap bait yang kujalani Hingga ku rangkai Dengan setitik tinda merah Hingga nyata di ucapkan

Tuah Tak Beradab

Hari itu berjalan seperti biasanya Ketika perihal tak menentu yang jadi acuan hidup Ketika hal yang diharapkan beregenerasi Menjadi sebuah Apatisme Inilah tumpuan hidup yang dijalani manusia Bak langit tak berawan Seperti angin tanpa haluan

Aku Senang

Kusenang karena kau bermain dengan kata-kata ku Aku senang karena kita bercanda kala itu Aku senang Ketika yang lain pergi bermain bermasamu Dengan nada yang tak sepaham dengan ku Tapi kesenanganku tak ada guna...... Karena kau tidak berwujud nyata