Nasib Pemuda Zaman Sekarang dalam Menghadapi Keberagaman

Pemuda disebut juga sebagai seorang warga Negara yang memiliki kepekaan terhadap pengaruh sosial dimasyarakat, serta mengerti akan keadaan Negara yang didudukinya. Pemuda juga biasa disebut pendorong semangat untuk maju dan bangkit menjadi lebih baik.

Pada tahun terdahulu pemuda sangat berpengaruh dalam kebangkitan nasional. Bagaimana tidak, jika bukan karena pemuda tidak mungkin indonesia akan dapat merumuskan pancasila, jika bukan karena pemuda, tidak aka nada yang namanya sumpah pemuda. Dan jika bukan karena pemuda, tidak akan lahir kader – kader bangsa yang berkualitas.
Hasil gambar untuk pemuda indonesia

Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno menjelaskan dalam pidatonya tentang seberapa batuhnya indonesia terhadap peran pemuda. Soekarno hanya meminta 10 pemuda untuk menggoncangkan dunia. Yang dikatakan soekarno ini adalah kiasan bahwa pemudalah yang memegang tombak atau puncak kejayaan suatu negara.

Pada era Pemerintahan Presiden Suharto, jika bukan karena pemuda tidak akan ada yang namanya Reformasi, begitulah kuatnya peran pemuda pada zaman dahulu. Walaupun pemuda yang berkumpul untuk menuntut reformasi beranekaragam jenis Budaya dan Agamanya, tidak menutup kemungkinan untuk melakukan apa yang namanya Kebangkitan Nasional.

Bahkan dahulu, keberagaman itulah yang membuat Indonesia ini maju dan bangga akan keberagamannya. Bagaimana caranya agar ia dapat kokoh, walaupun tidak saling paham antara kebiasaan dan Budayanya, tapi pemuda dahulu tetap kompak dalam menjalin kesatuan.

Indonesia juga dikenal dengan Semboyannya yang berbunyi “Bhineka Tunggal Ika” walaupun berbeda- beda tapi tetap satu. Semboyan tersebut memang termaknai dengan sebaik – baiknya dengan pemuda pada kala itu. Karena menurutnya, kesatuanlah yang membuat indonesia ini kokoh dan tidak dapat diadu domba dengan mudahnya.

Namun semua yang dituliskan diatas hanya terjadi oleh pemuda yang terdahulu, sekarang tidak ada lagi yang namanya rasa Nasionalisme dalam setiap diri pemuda. Pemuda dengan mudahnya diadu domba oleh suatu persoalan yang sebenarnya itu bisa diselesaikan dengan cara yang mudah. Kenapa perpecahan itu dapat terjadi dalam diri pemuda, itu dikarenakan karena kurang terserapnya makna dari Semboyan Negara Indonesia yakni Bhineka Tunggal Ika.

Pemuda sekarang lebih banyak menuding kelompok yang tidak sama dengan dirinya, disebut sesat atau salah, pemuda sekarang rela menjual jiwa Nasionalismenya dengan suatu kedudukan yang tak ada gunanya jika tak ada kesatuan. Pemuda sekarang dapat dengan mudahnya bilang “Saya ingin pindah dari Indonesia”.

Mengapa hal itu terjadi, siapa yang akan bertanggung jawab akan semua ini. Pemuda sudah tak acuh lagi dengan pertanyaan ini. Pemuda lebih memilih hidup senang, menjual segala rasa Nasionalismenya, karena ia berpikir, untuk apa ia bersusah payah memikirkannya, kan semua itu sudah menjadi tanggung jawab pemerintah. Pemerintah hanya lah wadah untuk menghimpun aspirasi dari pemuda dan menyalurkannya dengan bantuan pemuda pula. Jika hanya membiarkan pemerintah bekerja tidak akan selesai permasalahannya.

Dunia luar telah menghantam Indonesia dengan perlahan, mulai dari dari yang kecil hingga yang besar. Pemuda sudah tak segan lagi menghantam saudaranya hanya karena dia berbeda, pemuda tak malu lagi mengejek temannya hanya karena dia tidak normal. Tren gaya yang seperti ini merasuk dengan keji sampai kedalam diri pemuda.

Sekarang pemuda harus lebih bisa lagi menelaah dan memperbaiki diri lagi, kita rakyat indonesia, kita pemuda Indonesia, jika bukan pemuda yang menyuarakan pergerakan Nasionalisme, Indonesia akan terus diam, jangan jadikan keberagaman itu sebagi suatu penghambat untuk bangkit.


Untuk itu, sebagai pemuda zaman sekarang, hargailah apa itu keberagaman. Banggalah terhadap Indonesia yang beragam. Jika bukan kita yang membuatnya bangga, siapa lagi. Untuk itu marilah suarakan bersama panggilan jiwa dalam diri setiap pemuda. Jangan mau terpecah belah, ingat Semboyan kita, Semboyan para pemuda, Semboyan Indonesia, Bhineka Tunggal Ika.




Penulis: ciptaan Allah, diberi gelar Alif Ilham Fajriadi oleh kedua motivasinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Singkat UIN Imam Bonjol Padang

Wanita dan Emansipasi