Retorika Sampah
Semua orang pasti ingin pintar berbicara, ingin bisa menarik
orang dengan ceritanya dan tentunya ingin mejadi pusat perhatian lebih daripada
manusia lainnya. Mengenai berbicara, bercerita dan menarik perhatian dengan
cara bercerita akrab disebut dengan Retorika, dalam dunia ilmu komunikasi.
Dalam beretorika seseorang terkadang lupa akan diri dan
kemampuannya, ia lebih cenderung menambah atau mengurangkan cerita yang
didapatkan agar menarik untuk didengar. Jika hanya untuk lelucon ataupun guyonan itu tidak masalah,
tapi sayangnya cara seperti itu sudah menyerap kesetiap kalangan masyarakat,
mulai dari anak kecil yang berbohong, hingga penjabat yang melebihkan semua
janji – janji yang tak kunjung ditepati lewat bicaranya ketika berpidato.
Jika berbicara tentang retorika, dibenak kita juga akan
terbayang bahwa itu adalah seni berpidato dan orang yang pandai beretorika
pasti akan disegani disetiap kalangan. Tapi yang disegani yang mana, orang yang
beretorika dengan ilmu dan paham yang baik, atau orang yang beretorika dengan
ilmu dangkal taik kucing yang didapatkan saat bercerita dikantin?
Senior saya pernah berkata, “Kecek tu ndak usah banyak bana,
ciek – ciek ndak baa do yang pokok batua,” Kalau dalam bahasa indonesianya,
perkataan itu nggak usah banyak – banyak, cukup sedikit tapi benar yang
disampaikan.
Untuk itu saya mengajak kepada kita semua untuk bisa
mengurangi bicara yang tak penting dan bohong tersebut, sampaikan saja sesuai
kemampuan dan kepandaian kita, jangan ingin terlihat keren kalau ujung –
ujungnya kita kan ditertawakan karenanya.
Komentar
Posting Komentar